Bismillaahirrohmaanirrohiim

Entries for May, 2004


May 4th, 2004


Undangan pernikahan

Photobucket


Posted by ifat at 08:16 AM on May 4, 2004.

Assalamu'alaikum wr. wb.

Jam 9 pagi kemarin, saya menerima sms yang cukup mengejutkan, isinya undangan pernikahan teman sma saya: "bla-bla hari ini menikah di ... pukul 11-13..." antara percaya dan tidak, saya konfirm ke teman-teman yang lain, ternyata memang benar. Masalahnya beritanya sangat mendadak, ternyata semua teman sma saya baru tau hari itu, waw...tapi saya datang juga, selain ingin memberi do'a biasanya acara pernikahan gini bisa jadi ajang silaturahmi sekalian reuni.

Begitu sampai di sana, teman saya senyum-senyum ngeliat kedatangan kami, waktu kami menghampirinya untuk memberikan ucapan selamat, dia bilang..."wah..datang juga, sampe ya emailnya", hehehe..mana ada yang baca email libur-libur gitu. Setelah makan-makan 'n foto-foto, kami pamitan pulang. Sambil pamit saya bilang aja ke teman saya itu: "Besok-besok jangan mendadak lagi ya...!", hehe...dia dan istrinya cuma senyum-senyum

Buat semuanya yang baca, yang begini jangan dicontoh ya...!

Wassalamu'alaikum wr. wb.

1 respon, thx :)


Photobucket




Hmmm...

Photobucket


Posted by ifat at 08:17 AM on May 4, 2004.

kutetapkan satu jalan
ujungnya seolah-olah kelihatan
fatamorgana atau nyata
entah...
tetap saja enggan kugapai

~masa kontemplasi

3 respon, thx :)


Photobucket



May 10th, 2004


Laa Tahzan!!! jangan sedih...

Photobucket


Posted by ifat at 10:04 AM on May 10, 2004.

Assalamu'alaikum wr. wb.

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman menguatkanku dengan kata ini. Dan hari ini, mungkin perlu juga kata ini kutujukan untuknya. Laa tahzan, kata yang dalam Al-qur'an bergandengan dengan laa takhof: "laa takhof wa laa tahzan", janganlah kalian takut dan janganlah kalian bersedih.

Sebenarnya ada sebuah buku yang membahas secara khusus masalah kesedihan ini, hanya saja saya belum pernah membacanya bahkan melihatnya saja belum pernah . Ternyata pagi ini saya mendapatkan email yang membahas buku tersebut. Kebetulan...? tidak ada kebetulan saya rasa, ini adalah kehendak Allah.

Berdasarkan artikel tersebut, buku itu memberikan uraian mengenai berbagai ujian yang menimpa manusia, dan solusi yang diberikan adalah hendaknya kita jangan bersedih ketika menghadapi segala ujian tersebut. Langkah-langkah yang harus ditempuh untuk mengikis rasa sedih tersebut:
1) Percaya sepenuhnya kepada Allah.
2) Kesadaran bahwa semua yang telah Allah taqdirkan akan terjadi.
3) Sabar adalah senjata paling ampuh yang dipergunakan oleh orang yang sedang mendapat ujian.
4) Jika tidak sabar lalu apa yang bisa dilakukan. Dan tidak akan terbantu hanya dengan perasaan resah.
5) Mungkin saja kita akan berada dalam kondisi yang lebih jelek daripada kondisi saat ini.
6) Dari waktu ke waktu jalan keluar akan selalu terbuka.

Saya rasa di sini benar-benar dibutuhkan kebesaran jiwa serta penerimaan yang tulus agar rasa sedih tersebut dapat segera terobati. La Tahzan, hiburan langsung dari Allah yang ditujukan bagi orang-orang yang sedang menghadapi ujian. Toh Allah tidak akan menguji kita di luar batas kesanggupan kita menahan beban. Yakinlah jalan keluar itu pasti akan ditemukan, jika kita memang benar-benar bersungguh-sungguh menggapainya.

Ada kata-kata menarik di situ : "Sadarilah bahwa jika Anda hidup hanya dalam batasan hari ini saja, maka akan terpecahlah pikiran Anda, akan kacau semua urusan, dan akan semakin menggunung kesedihan dan kegundahan diri Anda".

Saya teringat ayat alqur'an: "inna ma'al-'usri yusroo", resapilah betapa indah Allah merangkainya dan menyampaikannya pada kita, bukan sesudah kesulitan baru muncul kemudahan, tapi kemudahan itu Allah janjikan bersamaan dengan kesulitan. Mengapa Allah tidak mengatakan "inna ma'al-'usri al-yusro", jika seperti itu maka hanya satu kemudahan untuk setiap kesulitan. Betapa Allah menyediakan banyak jalan untuk mengatasi setiap kesulitan, jika kita mau berusaha tentunya.

Saya kutipkan bagian akhir dari tulisan tersebut:
"Hidup memang tidak untuk larut dalam kesedihan yang berkepanjangan. Hidup juga bukan media untuk memuja-muja kegembiran, semua telah diatur berdasarkan regulasi langit yang menjadi hak absolute dari Sang Pencipta. Sebagai mahluk, manusia dibekali dengan apa yang disebut rasa, ada rasa sedih, ada rasa gembira, ada rasa takut, dan berbagai rasa lainnya. Kini yang dituntut adalah bagaimana mampu memanage rasa itu untuk stabil berada dalam ketentuan Tuhan".

So...teman, Ketika kesedihan itu datang, tegaklah berdiri! hadang terpaannya! tidak mengapa jika pakaian dan rambutmu mengikuti arah anginnya, tapi tidak dengan tubuhmu, tidak dengan jiwamu. Ia harus tetap menjadi tubuh yang kokoh serta jiwa yang tegar.

Wassalamu'alaikum wr. wb.

~Jikalah luka dan kecewa akan menjadi masa lalu pada akhirnya, mengapa mesti dibiarkan meracun jiwa. Sedang ketabahan dan kesabaran adalah lebih utama

8 respon, thx :)


Photobucket



May 17th, 2004


Seorang Pangeran :P

Photobucket


Posted by ifat at 12:42 PM on May 17, 2004.

assalamu'alaikum...

hehehe..dapet dari temen, ungkapan perasaan hatiku juga kali... ;P

-------------------------------

saat ini, aku cuma ingin seorang pangeran,
yang bisa membawaku pergi jauh dari sini,
entah pakai kuda, entah kereta, entah pula tak membawa apa-apa.

pangeranku, mustilah ia seorang yang bisa
membuatku tertawa bahagia,
tersenyum tanpa luka,
bercanda penuh suka,
dan berdiri tegak walau ada derita.

Pangeranku, pastilah ia seorang yang punya
cinta sejagad raya,
kasih seluas samudera,
sayang sebesar dunia,
juga iman,
yang mengkristal di hati dan jiwanya.

Seorang pangeran. Itu jawabku bila kau tanya,
"Apa yang kuinginkan sekarang?"
Tapi aku tak pernah memintanya paksa,
darimu, dari ayah ibuku, dari teman-temanku,
karena aku hanya ingin menunggu.
Sampai sekarang aku hanya ingin menunggu,
datangnya pangeranku.
: "Pangeran, bawa pergi aku !"

7 respon, thx :)


Photobucket




terima kasih... :)

Photobucket


Posted by ifat at 12:48 PM on May 17, 2004.

buat kamu, ya..kamu!

terima kasih atas pelajaran ketulusan menerima
terima kasih atas pelajaran keikhlasan melepaskan
terima kasih atas pelajaran kelapangan dada

buat kamu, kamu..yang di situ!

terima kasih...terima kasih..terima kasih...

howgh!!

1 respon, thx :)


Photobucket



May 19th, 2004


Di wajahnya kulihat pancaran kesyukuran

Photobucket


Posted by ifat at 08:45 AM on May 19, 2004.

begadang jangan begadang
kalau tiada artinya
begadang boleh saja
kalau ada perlunya


Ah...lagi-lagi Pak Tua itu. Ia memang pengamen bis kota yang alunan suaranya cukup sering menemani perjalananku menuju kantor. Caranya mengamen memang menarik perhatian. Bukan...bukan karena suaranya yang merdu, pun bukan karena musik yang mengalun dari tape standar yang biasa digunakan oleh para pengamen bis kota. Suaranya tentu saja jauh dari memperhatikan prinsip-prinsip pitch control maupun pengaturan suara lainnya, bahkan tidak jarang pula harus berkejaran dengan musik yang mengiringinya, tapi juga tidak membuat pekak gendang telinga orang yang mendengarnya. Ya...cukuplah untuk ukuran pengamen setua itu.

Hal unik yang cukup menarik perhatian para penumpang adalah ketika Pak Tua selalu mengawali lagunya dengan petuah-petuah khas orang tua yang ujung-ujungnya kerap dikaitkan dengan amal sholeh, keimanan dan juga taqwa. Dan biasanya hal tersebut ia sampaikan sambil tersenyum.

kalau terlalu banyak begadang
muka pucat karena darah berkurang
kalau terlalu banyak begadang
segala penyakit akan mudah datang


Ah...Pak Tua, lagi-lagi lagu itu yang diperdengarkannya. Bukan...bukan kerena lagunya yang membuatku tertarik menyimaknya bernyanyi bahkan sampai hafal baris per baris dalam bait-bait lagu tersebut. Ada hal yang lebih menarik dari sekedar isi lagu tersebut ketika ia menyanyikannya sambil tersenyum. Apa istimewanya sekedar seulas senyum? Jangan salah, senyumnya bukan senyum basa-basi yang hanya melengkungkan bentuk bibirnya, tapi merupakan senyuman yang membuat seluruh urat di wajahnya ikut tertarik dalam suatu harmonisasi yang memperlihatkan deretan gigi-giginya. Dari pancaran matanya, aku tahu kalau senyumnya itu tulus berasal dari hatinya.

darilah itu sayangi badan
jangan begadang setiap malam


Selesai sudah nyanyiannya seiring dengan berakhirnya musik pengiring, dan ia pun akan kembali memberikan petuahnya sambil secara tersirat memohon keikhlasan penumpang untuk mengulurkan tangan. Permohonannya sama sekali tidak memelas, apalagi sampai memohon belas kasihan dari para penumpang. Pun tidak juga memaksa dengan kasar yang menyebabkan penumpang takut untuk tidak memberi. Kemudian, ia akan berjalan dari deretan bangku paling depan sampai belakang sambil menyodorkan topi yang tadi ia kenakan di kepalanya. Tidak pernah sekalipun terdengar gerutuannya. Ketika ada penumpang yang tidak memberinya uang, ia hanya membalasnya dengan senyuman. Ketika ada yang memasukkan uang ke dalam topinya, lagi-lagi ia tersenyum disertai ucapan terima kasih kepada si pemberi disusul dengan seruan kalimat tahmid.

Ah...Pak Tua, takjubku lebih besar lagi, ketika kumasukkan sekeping lima ratus rupiah ke dalam topinya, ia berdiam sejenak sambil tersenyum padaku dan berkata "wah...banyak sekali, kembali nggak nih?" Dan ketika dia berjalan ke belakang, samar kudengar kalimat yang sama ia lontarkan kepada penumpang lain.

Pak Tua...segala lakunya sungguh membuatku haru. Apakah itu tanda kecukupan yang sejati? Adakah itu tanda kesyukuran yang hakiki?.

Ah..Pak tua, sungguh dari wajahnya memancar rasa syukur yang sangat. Semoga ada kesempatan kembali bertemu, agar dapat kurasakan lagi pancaran kesyukuran itu, dan dapat kukristalkan dalam hatiku.

6 respon, thx :)


Photobucket