Assalamu'alaikum wr. wb.
hmm..hari ini genap satu bulan aku bekerja, nggak kerasa

. Semakin banyak berfikir mengenai kenikmatan-kenikmatan yang selama ini kudapat, tapi mungkin belum kurasa. Padahal betapa hamburan kenikmatan-Nya yang begitu berlimpah, atau rizqi yang datang "min haitsu laa yahtasib" (firman Allah) telah Allah curahkan tak henti-hentinya(nggak hiperbolistik kan?). Yah...begitu banyak kenikmatan dan rizqi "dari arah yang tidak disangka-sangka". Mungkin ini balasan atas kebaikanku (GR banget

), hmmm...atau bisa jadi Allah sedang ingin mengujiku. Hey...mana rasa syukurmu?
Terkadang kita(kiita..?

mungkin hanya saya) banyak lupa. Lupa untuk bersyukur atas segala limpahan rahmat-nya. Lupa betapa perhatiannya Allah selama ini, lupa...yang seharusnya tidak berulang-ulang.
Rasa ingat itu baru muncul ketika ada sesuatu yang kita anggap
surprised, hal-hal di luar kebiasaan yang membuat kita berfikir: "oh...Allah sedang sayang padaku, Allah mengabulkan do'aku, Allah memuliakanku" lalu meluncurlah lantunan kesyukuran kita: "alhamdulillah...ya Allah, atas segala nikmat-Mu". Atau ada kalanya rasa ingat itu muncul ketika kesulitan sedang menimpa kita, merasa Allah membatasi rizqi kita, Allah cabut nikmat sehat yg selama ini melekat, lantas kita fikir: "oh...Allah sedang benci padaku, do'aku tak pernah dikabulkan-Nya, Allah menghinakanku" lalu melantunlah bait-bait istighfar dari lisan kita: "astaghfirullah...betapa selama ini aku jarang mensyukuri nikmat-Mu ya Allah". Sampai-sampai Allah menyindir kita(manusia) dalam surat al-fajr :
"Fa ammal insaanu idzaa mabtalaahu robbuhuu fa akromahu wa na'amahu fa yaquulu robbii akroman, wa ammaa idzaa mabtalaahu wa qodaro 'alaihi rizqohuu fa yaquulu robbii ahaanan" (terjemah dan ayat berapanya baca ndiri ya...kl lagi iseng aja, baca keseluruhannya, deg...dalem).
Jarang...(kalau tidak mau dibilang tidak pernah) kita rasakan lebih, pemberian-pemberian Allah yang bersifat rutin, nikmat yang setiap saat senantiasa kita peroleh. Air, udara, cahaya, dan lain-lain yang tak terhitung jumlahnya. Mungkin kita sering lupa karena memang hal-hal tersebut senantiasa ada, yang menjadikannya seperti rutinitas yang melekat dalam kehidupan kita, yang mungkin dalam benak kita terlintas "memang sudah seharusnya begitu, memang begitu adanya", atau bahkan sama sekali tak pernah terbetik dalam fikiran kita? Padahal, kalau saja Allah cabut salah satunya, whuah...tak akan pernah terbayangkan dampaknya. So...sudahkah kau bersyukur atas udara yang kau hirup hari ini, atas air yang mengalir lewat kerongkonganmu, atau cahaya mentari yang menemani gerak aktivitasmu sepagian hingga sore hari ini...? (pertanyaan buat diri sendiri)
Wassalamu'alaikum wr. wb.
~Allahummaj'alni min 'ibaadikasy-syaakiriin
~Jadikan aku termasuk ke dalam golongan hamba2-Mu yang bersyukur ya Allah.